Hubungi kami Telp. HP - Line - WA. 0856 4223 7686 - 0852 9090 3595 - Mebel Jati Jepara Ukiran dan Minimalis Modern
 
Partner
Pengunjung
Flag Counter

Furniture Tips

Perkembangan furniture dan seni ukir di Jepara
Saturday, 16 July 2016 | 14:21 WIB
By : Admin MEKA 1 - view : 15119

Jepara merupakan pusat desain industri dan mebel ukir di Indonesia yang telah merambah ukiran pada skala nasional dan internasional. Desain produk ukiran furniture Jepara yang telah lama dikenal oleh masyarakat luar berhasil menembus perdagangan dunia sejak tahun 1990-an. Pemerintah kabupaten Jepara telah memperkuat identitas daerahnya sebagai "The World Carving Center" atau pusat ukiran dunia.

 

Identitas daerah sebagai “The World Carving Center” bertujuan untuk menarik investor, pembeli dari dalam dan luar negeri, serta wisatawan domestik dan asing. Desain dari produksi mebel dan ukir Jepara yang telah menembus tujuan ekspor mendapatkan apresiasi positif dari konsumen di benua lain, antara lain: Asia, Eropa Barat dan Amerika.

 

Perkembangan furniture dan ukir kayu di Jepara tidak lepas dari peran Ratu Kalinyamat. Beliau memiliki Gubernur bernama "Sungging Badarduwung" yang terbukti ahli dalam memahat. Dalam sejarahnya diceritakan bahwa Sungging Badarduwung mengajukan diri untuk mengajarkan ketrampilan dalam memahat dan mengukir kepada masyarakat setempat. Jika kita ingin melihat hasil ukiran dan pahatannya, dapat dilihat pada hiasan ukiran batu di Masjid Mantingan.

  photo kayu-jati-ukiran-jepara_zps5qq7drjy.jpg

 

 photo hiasan-dinding-ukiran-jepara_zpsyb1apwkr.jpg

 

 photo ukiran-jepara-relif-kayu-jati_zps2m3b60p4.jpg

Selain Ratu Kalinyamat, peran dari Raden Ajeng Kartini dalam mengembangkan seni ukir juga sangatlah besar. Hati beliau tergerak membantu dan memajukan seni ukir Jepara karena telah melihat kehidupan para pengrajin yang tidak keluar dari kemiskinan. Pada saat itu, Beliau  mengajak para pengrajin untuk membuat beberapa ukiran, seperti meja, bingkai, perhiasan, dan barang-barang souvenir lainnya.

 

Beliau kemudian menjual barang – barang ini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta), agar diketahui oleh masyarakat luas bahwa masyarakat Jepara pandai dalam mengukir dan membuat furniture. Raden Ajeng Kartini juga mulai memperkenalkan furniture dan ukiran Jepara ke luar negeri setelah banyak pesanan yang datang. Beliau juga memberikan beberapa souvenir untuk  kerabat sehingga banyak reaksi positif yang timbul karena banyak yang memesan barang ke Jepara.

 

Pada tahun 1929 atas saran masyarakat luas saat itu, beliau mendirikan sekolah kejuruan khusus untuk seni ukir agar furniture di Jepara dapat berkembang dan dikenal lebih pesat lagi. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, dengan nama "Openbare Ambachtsschool" yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Kerajinan Industri. Dalam sekolah ini diajarkan berbagai macam desain dan motif dekoratif ukiran Indonesia yang awalnya tidak diketahui oleh masyarakat Jepara pada saat itu.  

 

Jepara yang saat ini mendapatkan predikat sebagai kota ukir, telah berhasil menguasai pasar nasional. Sedangkan untuk pasar Internasional, Jepara harus berkompetisi dengan Negara lainnya seperti: Tiongkok, Thailand, dan lain – lain. Untuk itu diharapkan agar peningkatan kualitas produk dan pengawasan mutu dalam memasuki pasar internasional harus dilakukan, agar kepercayaan luar negeri terhadap produk industri Jepara dapat meningkat. Selain itu, perluasan dan intensifikasi pasar terus dilakukan untuk meningkatkan ekspor dengan berbagai produk furniture yang unggul.

  photo ukiran-kayu-jati-utuh_zpsfnahatp5.jpg

 photo tukang-ukir-jati-jepara_zpsqbtlnoko.jpg

 photo ukiran-relif-jepara_zpselt6vyki.jpg

Saat ini, sebagai pendukung kemajuan industri furniture di Indonesia, pemerintah menerapkan SVLK (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu) yang digunakan sebagai instrumen perdagangan kayu legal yang telah dinegosiasikan di pasar utama, seperti Uni Eropa, Australia, Jepang, Kanada, Tiongkok, Amerika Serikat dan Korea Selatan. Sistem ini diterapkan di Indonesia untuk memastikan agar produk kayu yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia memiliki status legal, sehingga konsumen di luar negeri tidak perlu lagi khawatir akan legalitas kayu yang berasal dari Indonesia. Sehingga diharapkan agar dapat meningkatkan daya saing produk furniture yang ada di Indonesia dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jepara pada khususnya.

Artikel Terkait