Hubungi kami Telp. HP - Line - WA. 0856 4223 7686 - 0852 9090 3595 - Mebel Jati Jepara Ukiran dan Minimalis Modern
 
Partner
Pengunjung
Flag Counter

Furniture Tips

Selayang Pandang tentang Ukiran Jepara
Friday, 6 January 2017 | 11:34 WIB
By : Admin MEKA - view : 1148

Jepara merupakan kota yang terkenal dengan seni ukirnya. Kota ini dikenal sebagai kota penghasil berbagai macam produk kerajinan kayu terbesar di Indonesia. Karena itu, anda jangan heran jika ketika mendengar kata Jepara, orang akan langsung mengaitkannya dengan seni ukir pada kayu. Sebagai warga negara yang mencintai kekayaan budaya bangsanya, ada  baiknya Anda mengenal lebih jauh mengenai ukiran jepara. Berikut selayang pandangnya untuk Anda.

 

Apa yang membuat ukiran jepara populer hingga ke manca negara?

Walaupun ada banyak daerah selain Jepara yang menghasilkan ukiran kayu, namun ada beberapa alasan mengapa seni ukir Jepara paling banyak penggemarnya. Penggemar seni ukir tersebut pun tidak hanya dari domestik namun juga mancanegara. Alasan yang pertama adalah ukiran yang diciptakan selalu mengikuti tema yang berkembang di masyarakat sehingga konsumen pasar pun tertarik. Jika dilihat dengan seksama, ukiran yang diciptakan oleh pengrajin jepara memiliki beragam motif yang cukup mencolok. Pada ukiran kayu jati misalnya, anda bisa melihat adanya corak cabang dan daun kipas yang menjalar dan mengecil pada ujungnya. Corak ini merupakan corak dasar. Ketika minat konsumen saat ini adalah gaya minimalis, corak dasar tersebut pun mengalami inovasi dimana kompleksitas corak ukiran lebih dibuat sederhana dengan desain medianya.

 

Disamping fleksibel, karya ukiran yang ditampilkan memiliki kesan tersendiri yang kuat. Seperti yang kita tahu, sebuah karya seni merupakan media bagi seorang seniman untuk mengekspresikan atau menyampaikan sesuatu. Hal ini juga berlaku pada ukiran yang kita bahas ini. Para penggemar seni ukir mengungkapkan bahwa seni ukir dari kota di Jawa Tengah ini selalu terlihat luwes serta tidak membosankan bagi mereka yang melihat. Mungkin karena hal itu pulalah banyak orang yang lebih memilih memajang mebel dengan corak khas Jepara daripada menggunakannya sebagai barang sesuai fungsinya. Tidak sedikit pula orang yang menempatkan beberapa mebel ukiran kayu jati di tengah rumah modern mereka karena faktanya ukiran ini malah memberikan kesan natural dan kalem.

 

Alasan lainnya mengapa ukiran ukiran jepara populer adalah keprofesionalan senimannya. Seorang seniman yang profesional dan memiliki jiwa seni yang tinggi akan meningkatkan kepercayaan dan keoptimisan konsumen terhadap hasil produk yang dipesannya. Terlebih lagi ini menyangkut seni ukir pada media keras seperti kayu. Tentu bukan hal yang mudah menguasai teknik ukir yang beragam serta telaten dengan detail ornament ukir yang diinginkan. Disamping itu, sebuah seni tentu membutuhkan kreativitas tinggi agar menghasilkan karya yang berkesan dan diminati masyarakat umum. Dari sinilah salah satu harga tak ternilai dari sebuah karya seni.

 

Pada umumnya, corak ukiran seperti ukiran kayu jati pada sebuah media kayu bisa diberi kombinasi banyak motif. Selain motif latar belakang seperti cabang melengkung dan daun-daun dengan biji, motif lain seperti naga, bunga, hewan, hingga relief manusia biasa dijadikan sebagai motif utama. Pada furnitur seperti kursi dan bingkai, motif yang diaplikasikan biasanya adalah tumbuhan bercabang dengan daunnya yang banyak. Sementara itu, pada media yang lebih besar, seniman ukir sering menerima permintaan ukir berupa relief manusia dan hewan.

 

 

Demikian beberapa ulasan singkat mengenai salah satu ukiran terpopuler di Indonesia, ukiran jepara Anda yang berkesempatan berwisata atau sekedar singgah ke Jepara tidak ada salahnya melihat-lihat bagaimana para seniman ukir menghasilkan sebuah karya. Agar tidak pulang dengan tangan kosong, anda bisa membeli pigura, kaligrafi, atau lukisan berukir sebagai buah tangan. Semoga ulasan diatas dapat menambah pengetahuan anda mengenai karya seni ukir dan menambah kecintaan terhadap hasil kearifan lokal yang telah ada sejak zaman nenek moyang.

Artikel Terkait